Skip to main content

Posts

YANG TELAH MEMILIH DIAM

Langkah kau kini tegak
pada matahari tak lagi malu
aku serupa bayanganmu sendiri
yang diam-diam menguntitmu
yang mungkin tanpa kau tahu
turut tersenyum saat kau tersenyum
tidak ada kumandang puji untukmu
tapi pada puisi ini, tiap aksaranya
menuntun segala tentangmu
ke dalam doa

Recent posts

TRAGEDI KATAKATA

katakata ditinggal makna
makna berlari menjauhi katakata nguap jadi mendung jadi hujan 
deras di mata jadi banjir banjir katakata katakata banjir Jadi airmata airmata menggenang jadi lumpur luka lukaluka jadi kesumat nyalakan tragedi Tragedi katakata dihempas makna katakata jadi tragedi mengoyakngoyak zaman memorakporandakan iman meluluhlantakkan nurani menghancurleburkan sadar membumihanguskan ramah menjungkirbalikkan akal menenggelamkan tawa memangsa segala  katakata airmata luka luka tragedi kata
kata makna binasa

Dhoho TV, 25 Desember 2016

TAN MALAKA: NARASI SEJARAH YANG DILUPAKAN

TINJU TRADISIONAL: MENYELAMI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT ADAT PULAU FLORES

 Oleh Muksin Kota Al Florezy* Jika anda berkesempatan mengunjungi pulau Flores, saran saya, sebaiknya jangan hanya pulau Komodo yang jadi fokus tujuan anda. Apa lagi, bila kunjungan tersebut dengan niat wisata atau berlibur. Saya pastikan, anda akan menyesal nanti setelah mengetahui wajah Flores yang sesungguhnya; bahwaKomodo dan keindahan lautnya yang dikenal selama ini tidak akan sempurna tanpa memasukkan wisata budaya masyarakat Flores ke dalam catatan agenda wisata anda. Ini serius, Kawan! Selama ini, orang-orang hanya paham Taman Wisata Pulau Komodo itu ada di Flores. Selain itu, pantainya pun bukan kepalang seksinya. Tapi, coba sekali-sekali anda telusuri lagi lebih jauh potensi lain di sana yang memungkinkan perjalanan anda sedikit berbeda dengan yang lainnya. Nah, tulisan ini saya buat dengan seyakin-yakinnya untuk menggugah jiwa petualang anda dalam merambah keanekragaman budaya Indonesia yang memang selama ini masih berada di dasar samudera; belum ditampakkan ke permukaan. Min…

SISI LAIN ORANG (INDONESIA) TIMUR YANG JARANG DIEKSPOS

Oleh: Muksin Kota Al Florezy (pernah dimuat di mojok.co)

Sepertinya, stigmatisasi publik terhadap orang Indonesia timur tidak pernah akan selesai. Setelah dicap sebagai tukang bikin masalah di kampung orang–fakta ini sejalan dengan kasus premanisme di ibukota yang pernah heboh beberapa tahun lalu–kemudian kondisi geografis dan topografis daerahnya yang masih bermasalah dengan kesejahteraan, sampai-sampai ada sebuah perusahaan air mineral yang mencoba menjajakan dagangannya lewat iklan: “Sekarang sumber aer su dekaaat”.
Perlakuan diskriminatif yang demikian ternyata memunculkan asumsi negatif, bahwa semua orang timur yang berkulit gelap, berambut keriting, dan bertampang keras adalah jahat. Sebagai putra asli timur yang baik hati dan tidak sombong, saya sungguh sedih dengan munculnya hal tersebut.
Bagaimana tidak? Ulah sekelompok timur diaspora di ibukota digeneralisasi secara radikal sebagai tabiat asli orang timur secara keseluruhan. Asal dia dari timur, sudah pasti jah…

DAMAIKAN NATAL, BUNG!

Sejak kecil, sebelum sekolah malahan, saya sudah tahu negara tempat saya berada bernama Indonesia. Perlahan, pengetahuan tentang Indonesia kian bertambah manakala masuk sekolah dasar. Buku mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial - pelajaran yang paling saya minati sampai kini - saya embat seperti sedang makan jagung goreng. Indonesia rupanya luas; dari Sabang sampai Merauke, saya punya pulau ada di sebelah bawah kalau di peta, timurnya pulau Jawa.  Soal keyakinan yang dianut pun saya juga hafal luar kepala. Berturut-turut dari yang paling banyak pemeluknya: Islam, Kristen, Hindu, dan Budha. Belakangan, muncul agama Konghucu untuk kalangan Tionghoa, lantas disusul agama asli, baru-baru ini. Demikian juga dengan keseharian saya. Kawan sepermainan saya antara lain mereka yang setiap minggu pagi selalu menyusur jalan searah jalan biasa kami menuju sekolah, untuk melaksanakan ibadah Misa Mingguan di Kapel(a) sebelah gedung sekolah.  Semboyan “Bhineka Tunggal Ika” didaulat sebagai penegas, …

NYA

Katanya, tidak ada waktu sedamai pagi sejuk angin akan bercengkerama bersama kabut dan juga embun lalu napas semesta menghembuskan cinta mimpi yang lepas semalam kembali dirawat dan, masih katanya, bisa dirangkai jadi nyata aku lantas mengamininya sebagai palu yang diketuk tiga entah kenapa, setiap mengingatnya pagi seolah tiada makna apapun seluruh bagian pada tubuhnya adalah kata kata berkisah bahwa wujud pagi yang damai telah terhampar dengan jelas melaluinya enggan bertemu pagi kupilih bermimpi menemuinya.

TIDAK ADA CINTA HARI INI

Bukankah cinta adalah keikhlasan;
angin menerbangkan debu
dan bumi menerimanya sebagai berkah

Bukankah cinta adalah kesungguhan;
angin mengibas mendung
dan matahari terus menuruni senja

Bukankah cinta adalah kerendahan hati;
angin menggugurkan daun
dan reranting kembali lahirkan kuncup

Bukankah cinta adalah kekuatan;
angin menggulung ombak
dan tepi menyambutnya dengan suka cita

Bukankah cinta adalah ketiadaan;
sedang kata berusaha mendekapnya utuh
lalu angin mendendang badai

Tidak ada cinta untukmu hari ini
sebab hadirnya telah purna
kembali ke dalam kekal

Kediri, Desember 2016



MENANDAS DERA

Kemudian dengan tergopoh-gopoh ia menyeret langkahnya memungut hati yang telah jadi serpih berceceran di sepanjang ingatan: umpama malam bukan gelap yang ada mudah mungkin mengubur luka dalam kenang tapi perempuannya menyeruak di pusar sepi lalu sendiri dikutuk diri: rindu rupanya sedang bersembunyi Toilet Jongkok, Desember 2016